Fungsi Administratif dalam Administrasi Kesiswaan


Di lingkungan setiap sekolah pengelolaan kesiswaan memerlukan kegiatan, pengorganisasian, koordinasi, pengarahan / bimbingan dan control. Perencanaan dalam Administrasi Kesiswaan antara lain menyangkut rencana jumlah keseluruhan siswa (student body) di sekolah, baik untuk tahun demi tahun maupun suatu kurun waktu tertentu misalnya selama 5 tahun atau untuk satu periode kepemimpinan Kepala Sekolah yang diperkirakan jangka waktunya menurut kelaziman terjadinya penggantian. 
 
Perencanaan itu akan menyangkut perencanan penerimaan siswa baru, kelulusan, jumlah yang putus sekolah (drop out) dan kepindahan. Khususnya mengenai perencanaan penerimaan siswa akan langsung berhubungan dengan kegiatan penerimaan dan proses pencatatan atau dokumentasi data pribadi siswa, yang tidak dapat dilepaskan kaitannya dengan pencatatan atau dokumentasi data hasil (prestasi) belajar dan aspek-aspek lain yang diperlukan dalam kegiatan kurikuler dank o-kurikuler. 
Misalnya data minat, sifat-sifat kepribadian, hubungan social dan lain-lain selama bersekolah yang diperlukan dalam kegiatan Bimbingan dan penyuluhan. Rencana penerimaan siswa harus dikaitkan juga dengan aspek kualitatif dan kuantitatif. Aspek kualitatif menyangkut prestasi dan kepribadian siswa, yang mengharuskan dilakukannya seleksi melalui berbagai bentuk test masuk, termasuk juga berupa test psikologis. Akan tetapi bagi sekolah-sekolah yang peminatnya terbatas, test masuk untuk menyaring kualitas siswa ini sulit untuk dilakukan.
 
Fungsi Administratif dalam Administrasi Kesiswaan
 
Namun jika test tersebut digunakan untuk memperoleh informasi mengenai kemampuan dan kepribadian siswa, maka kegitan itu menjadi penting baik bagi sekolah yang peminatnya banyak maupun sedikit. Data atau informasi itu akan sangat banyak gunanya bagi kegiatan membantu siswa dalam proses belajar terutama melalui kegiatan bimbingan dan penyuluhan. Dalam keadaan lain test masuk sering juga sulit dilakukan karena tidak tersedianya test yang baik berupa test yang valid, realibel dan bersifat diagnostic. Untuk itu kerap kali seleksi terpaksa harus dilakukan melalui nilai yang pernah dicaspai oleh calon siswa, baik di dalam ijazahnya maupun di dalam buku laporan pendidikan yang dimiliki dari sekolah yang ditinggalkannya. Di sampang itu bagi sekolah tertentu kedua cara tersebut dapat digabungkan terutama dengan maksud mengurangi jumlah peserta test masuk agar tetap dapat mencapai tujuan untuk memperoleh siswa yang berkualitas tinggi.

Penerimaan siswa dari segi kuantitas menyangkut penentuan jumlah siswa yang akan diterima sesuai dengan kemampuan menyelenggarakan proses pendidikan yang bersifat kurikuler, dank o/ekstra kurikuler yang berdata dan berhasil guna. Untuk itu perlu ditetapkan lebih dahulu kemampuan daya tampung sekolah untuk semua kelas setelah memperhitungkan juga jumlah kelulusan dan yang keluar karena putus sekolah atau pindah. Perencanaan penerimaan siswa dikaitkan dengan jumlah keseluruhan (student body, harus memperhatikan juga kemungkinan penambahan kelas karena tambahan lokal dengan memperhitungkan juga tambahan guru dan fasilitas kelas. 
 
Oleh karena itulah perencanaan kesiswaan ini tidak cukup jika hanya disusun pertahun, tetapi juga kesiswaan ini tidak cukup jika hanya disusun pertahun, tetapi juga untuk suatu waktu tertentu. Di samping itu kiranya perlu digarisbawahi bahwa perencanaan itu sebaiknya disusun secara tertulis sebagai hasil musyawarah dewan guru, agar setiap orang merasa ikut serta bertanggung jawab dalam pelaksanaan kebijakan yang telah ditetapkan ebrsama itu.

Berikutnya tak kalah pentingnya peranan para pengawas dan penilik tidak saja untuk mengecek apakah perencanaan itu dibuat, tetapi juga untuk memberikan bimbingan dan petunjuk agar perencanaan itu dibuat secara baik dan benar.
Aspek berikutnya menyangkut pengorganisasian siswa yang dapat meliputi pengaturan dan penempatan di dalam kelas dan pencatatannya sehingga terdapat keseimbangan antara kelas. Keseimbangan itu antara lain mengenai perbandingan jumlah siswa pria dan wanita, antara siswa yang cerdas, sedang dan kurang, antara siswa yang status social ekonomi orang tuanya kaya, menengah dan tidak mampu, bahkan mungkin antara perbedaan agama. Dengan demikian akan terhindar kemungkinan kehidupan kelas yang pincang antara satu dengan yang lain dalam arti akan tercegah kemungkinan terbentuknya kelompok-kelompok ekslusif yang tidak menguntungkan bagi perkembangan dinamika kelas.

Pengorganisasian siswa kaan menyentuh juga kegiatan kelompok belajar, regu olah raga dengan berbagai cabangnya, team kesenian dengan berbagai jenisnya, pengurus kelas, pengurus organisasi siswa (OSIS), pembentukan berbagai panitia untuk berbagai kegiatan seperti peringatan hari-hari nasional dan keagamaan, ulang tahun sekolah, perpisahan dan lain-lain. Pembentukan kelompok seperti itu selain memperhatikan kemampuan dan minat siswa, kiranya perlu juga didasarkan pada pemerataan kelas (waki kelas) untuk menumbuhkan perasaan kebersamaan, senasib seperjuangan, berat sama dipikul dan ringan sama dijinjing. 
 
Di pihak lain pemerataan berdasarkan wakil kelas itu akan bermanfaat pula bagi kesinambungan kepemimpinan siswa di sekolah, karena tidak seorang pun siswa yang berhasrat tinggal untuk yang dapat ditahan terus pada satu sekolah. Selamanya pada setiap sekolah akan datang siswa baru dan akan pergi siswa yang sudah tamat. Aspek pemerataan kelas ini menjadi semakin penting untuk menghindari kegagalan siswa belajar karena terlalu disibukkan dengan tugas-tugas organisasi yang hanya dimungkinkan dengan membagi tugas-tugas itu kepada banyak siswa. Di pihak lain akan berarti pula semakin banyak siswa yang mendapat kesempatan melatih diri dalam kepemimpinan, yang akan sangat besar pengaruhnya pada perkembangan pribadinya.

Selanjutnya setelah dilakukan pengelompokkan dan penempatan siswa secara baik dan benar, dapat dimulai atau dilanjutkan kegiatan yang menjadi beban kerja sekolah. Untuk itu Kepala Sekolah dengan dibantu guru-guru dalam pembagian tugas yang baik harus melaukan koordinasi dan memberikan bimbingan / pengarahan agar setiap kegiatan tidak berbenturan dan terarah secara mantap pada usaha membantu siswa mewujudkan kedewasaannya masing-masing. Koordinasi tidak sekedar menyentuh keselarasan kegiatan, tetapi juga dalam penggunaan alat, pengaturan waktu, pemberian dan penerimaan saran dan kritik dan lain-lain. Tidak diharapkan pada saat suatu kelas sedang belajar, beberapa siswa terganggu karena harus mengikuti latihan. Sebaliknya latihan tidak dapat dilaksanakan karena ternyata alat dipinjamkan kepada sekolah lain dan sebagainya. Aspek pengarahan dan bimbingan menyangkut usaha menghidarkan siswa dan atau kelompok siswa dari kegiatan-kegiatan yang menyimpang dari program sebenarnya, baik yang bersifat kurikuler maupun ko/ekstra kurikuler. 
 
Kegitan pengarahan dan bimbingan dapat dilakukan oleh Kepala Sekolah dan guru dalam bentuk membagi dan memberikan tugas secara jelas, menerangkan cara melaksanakan tugas seperti dalam belajar kelompok, memberikan petunjuk tentang cara menyimpan dan memelihara alat-alat dan lain-lain.
Apabila kegiatan-kegiatan di atas telah berlangsung, selanjutnya Kepala Sekolah dan guru-guru yang membantunya, mengemban pula tugas melaksanakan kontrol. Kegiatan ini pada tahap pertama bermaksud untuk menilai apakah tujuan telah tercapai. Sedang pada tahap berikutnya bermaksud untuk mengetahui apakah kegiatan-kegiatan telah berlangsung secara berdaya guna, tanpa penyimpangan-penyimpangan yang tidak menguntungkan dan apakah setiap siswa dalam posisinya masing-masing telah melakukan kegiatan-kegiatan secara baik dan benar. Kontrol dapat dilakukan secara langsung dengan mengobservasi atau mengamati kegiatan yang sedang berlangsung dan dapat pula dilakukan secara tidak langsung dengan meminta laporan tertulis atau lisan dari siswa yang bertanggung jawab mengkoordinasikan suatu jenis kegiatan. 
 
Kontrol sebaiknya tidak saja dilakukan setelah suatu kegiatan berlangsung, akan tetapi juga harus diselingi dengan cara kontrol insidentil agar bilamana terdapat kekurangan-kekurangan, penyimpangan dan kesalahan dalam kegiatan siswa, segera dapat dilakukan kegiatan bimbingan dan pengarahn. Untuk itu pelaksanaan kontrol terutama yang dilakukan secara langsung dapat ditempuh dengan cara memberitahukan lebih dahulu / sebelumnya, tanpa pemberitahuan dan bahkan dengan ikut serta dalam kegiatan yang sedang dilaksanakan siswa. Dari uraian-uraian di atas jelas bahwa pelaksanaan kontrol bukanlah untuk sekedar mencari kesalahan siswa dan kemudian dimarahi dan dihukum, akan tetapi justru bermaksud untuk memberikan bimbingan, petunjuk dan pengarahan agar setiap kegiatan berlangsung secara berdaya dan berhasil guna. 
 
Di samping itu kontrol tidaklah dilakukan secara sepihak, akan ettapi dilakukan bersama dalam arti mengikutsertakan yang dikontrol, agar tumbuh rasa kebersamaan yang akan menjelma pada kecintaan dan kebanggaan terhadap sekolah. Oleh karena itu kontrol hanya akan bermanfaat jika dilakukan secara kontinyu dalam arti direncanakan jumlah dan waktunya sepanjang tahun dan tidak sekedar dilakukan pada awal atau akhir tahun melalui rapat dewan guru.
 
 


Jangsigma

Author :

Terimakasih, telah membaca artikel mengenai Fungsi Administratif dalam Administrasi Kesiswaan. Semoga artikel tersebut bermanfaat untuk Anda. Mohon untuk memberikan 1+ pada , 1 Like pada Facebook, dan 1 Follow pada Twitter. Jika ada pertanyaan atau kritik dan saran silahkan tulis pada kotak komentar yang sudah disediakan.
Share Artikel
Tag : Ruang Guru
0 Komentar untuk "Fungsi Administratif dalam Administrasi Kesiswaan"

Peraturan Komentar :
1. Berkomentarlah dengan sopan.
2. Silahkan membuka Lapak tetapi tidak dengan menyertakan Link Hidup
3. Nickname mengandung link web/blog tidak akan dipublish
4. Komentar yang berbau sara / pornografi tidak akan dipublish
5. Karena kesibukan lain, komentar tidak semua dibalas
6. Mari budayakan komentar dengan berbahasa yang baik.

Back To Top