Pengaruh Obat Epilepsi Terhadap Bayi Dalam Kandungan


Timbul pertanyaan mengenai akibat buruk pada janin karena rutinitas minum obat epilepsi selama hamil. Memang, terkadang ditemukan efek sampingnya pada janin, tetapi pengaruhnya kecil sekali. Dari suatu hasil penelitian di Indonesia terhadap 40 kasus, bayi yang lahir dari ibu penderita epilepsi yang rutin minum obat epilepsi ternyata normal. Penelitian di luar negeri memang menemukan kelainan pada bayi yang dilahirkan oleh ibu yang minum obat secara rutin, yaitu sekitar 19%. 
 
Tetapi, itupun karena dosis obat yang diminum tinggi atau berupa obat kombinasi. Perlu diketahui, obat-obatan yang diberikan kepada penyandang epilepsi untuk menghilangkan serangan kejang, tidak dibenarkan dalam bentuk kombinasi, harus satu macam. Kemungkinan jadi cacat justru karena obat koembinasi ini, misalnya bibir sumbing, kelainan jantung, kelainan sumsum tulang.
 
Pengaruh Obat Epilepsi Terhadap Janin
Penyandang epilepsi yang sedang hamil tidak dikenakan pantangan khusus. Hanya saja, sebagai tindakan pencegahan muncul serangan, penderita disarankan hidup teratur, makan cukup, tidur cukup, tidak stress, rajin kontrol ke dokter dan rutin minum obat. Andaikan serangan jarang kambuh, kontrol bisa sebulan sekali saja, tetapi ditingkatkan menjadi dua kali seminggu bila frekuensi kambuh meninggi.

 
Proses persalinan tidak ada pilihan lain, sebaiknya di rumah sakit. Hal ini karena melahirkan merupakan stres fisik bagi ibu, sedangkan stres adalah salah satu pencetus timbulnya serangan kejang. Dikhawatirkan, bila ibu ketika melahirkan stres, bisa-bisa ia akan kejang-kejang. Sedangkan bila ibu melahirkan di rumah sakit, hal-hal yang tidak dikehendaki seperti ini bisa segera ditanggulangi.

Masalah ibu penyandang epilepsi untuk menyusui bayinya tidak ada halangan selama ibu itu terbebas dari serangan. Setelah kejang-kejang pun, bila bayi membutuhkan ASI, tidak ada halangan bagi ibu untuk menyusui. Ibu tidak perlu khawatir ASI akan mengandung obat yang rutin diminum tersebut. Berdasarkan penelitian, kadar obat tersebut relatif kecil. Jadi ibu tidak perlu menghentikan pemberian ASI yang justru sangat penting dalam memberikan sistem kekebalan tubuh bagi bayi.

Perlu diperhatikan, si ibu tidak diperkenankan menggendong sendiri bayinya. Perlu bantuan orang lain karena dikhawatirkan ketika ibu hilang kesadaran, bayi akan terjatuh. Disarankan pula, penyandang epilepsi mengatur jarak kehamilan, minimal 2 tahun. Janganlah terlalu sering hamil. Hal ini perlu diperhatikan mengingat kehamilan bagi penderita epilepsi berisiko tinggi bagi keselamatan nyawanya juga bagi sang bayi.

Epilepsi bukanlah penyakit menular dan juga bukan penyakit turunan, yang diwariskan bukan epilepsinya melainkan ambang rangsang serangan, artinya ambang rangsang serangan anak terhadap epilepsi rendah. Jadi, bila kedua orang tua normal, anak tetap memiliki kemungkinan mewarisi ambang rangsang serangan rendah terhadap epilepsi. Andaikata salah seorang dari orang tua menderita epilepsi, rendahnya nilai ambang rangsang serangan anak 2 kali lebih besar dari normal. Kemungkinan ini akan berlipat lagi menjadi 4 kali bila kedua orang tua anak sama-sama penderita epilepsi.


Jangsigma

Author :

Terimakasih, telah membaca artikel mengenai Pengaruh Obat Epilepsi Terhadap Bayi Dalam Kandungan. Semoga artikel tersebut bermanfaat untuk Anda. Mohon untuk memberikan 1+ pada , 1 Like pada Facebook, dan 1 Follow pada Twitter. Jika ada pertanyaan atau kritik dan saran silahkan tulis pada kotak komentar yang sudah disediakan.
Share Artikel
Tag : Health
0 Komentar untuk "Pengaruh Obat Epilepsi Terhadap Bayi Dalam Kandungan"

Peraturan Komentar :
1. Berkomentarlah dengan sopan.
2. Silahkan membuka Lapak tetapi tidak dengan menyertakan Link Hidup
3. Nickname mengandung link web/blog tidak akan dipublish
4. Komentar yang berbau sara / pornografi tidak akan dipublish
5. Karena kesibukan lain, komentar tidak semua dibalas
6. Mari budayakan komentar dengan berbahasa yang baik.

Back To Top